Mengangkat Integrasi Islam dan Sains melalui Bedah Buku

TBY- Bidang Kajian Aksi dan Strategis (KASTRAT) HM-PS Pendidikan Matematika menyelenggarakan kegiatan bedah buku ke-2 berjudul Islam dan Sains dalam Paradigma Integrasi dan Interkoneksi karya Imelda Fajriati pada hari Senin, 20 Oktober 2025 pukul 15.00 sampai selesai. Kegiatan ini menghadirkan Ghifari Firmansyah sebagai pemateri dari dari anggota KASTRAT dan dipandu oleh Fadhilah Khoirunnisa selaku moderator dari anggota KASTRAT, dengan sasaran utama mahasiswa dan anggota mahasiswa Pendidikan Matematika. Bedah buku ini bertujuan untuk mengangkat kembali wacana integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan ilmu Islam yang selama ini kerap dipahami secara terpisah. Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di depan area parkiran Fakultas Tarbiyah tersebut diikuti oleh kurang dari 10 peserta dan menjadi bagian dari upaya KASTRAT dalam membangun budaya literasi dan diskusi ilmiah di lingkungan mahasiswa.

Pelaksanaan kegiatan mengalami penyesuaian teknis akibat faktor cuaca. Awalnya, panitia merencanakan kegiatan berlangsung di luar ruangan, tepatnya di depan parkiran Fakultas Tarbiyah. Namun, hujan yang turun sejak awal kegiatan menyebabkan lokasi tersebut tidak memungkinkan untuk digunakan. Kondisi ini berdampak pada minimnya kehadiran peserta pada awal pelaksanaan karena suasana yang kurang kondusif. Menyikapi situasi tersebut, panitia kemudian memutuskan untuk memindahkan kegiatan ke ruang TBY lantai 1 ruang 107 agar diskusi dapat tetap berlangsung dengan lebih nyaman dan tertib.

Dalam pemaparannya, pemateri menjelaskan bahwa paradigma integrasi dan interkoneksi menekankan pentingnya menghubungkan kembali ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman. Ghifari Firmansyah menegaskan bahwa dikotomi antara sains dan Islam justru dapat menghambat perkembangan keilmuan yang utuh. “Integrasi dan interkoneksi ini pada dasarnya adalah upaya mengkoneksikan kembali antara ilmu pengetahuan dengan ilmu Islam agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya saat sesi pemaparan. Diskusi kemudian berkembang pada relevansi paradigma tersebut dalam dunia pendidikan, khususnya dalam membangun cara pandang mahasiswa yang lebih holistik dan kritis terhadap ilmu.

Meski berjalan dengan lancar, kegiatan ini tidak terlepas dari sejumlah kendala. Faktor hujan dan keterbatasan tempat menjadi tantangan utama yang memengaruhi jumlah peserta yang hadir. Selain itu, pemateri juga menyoroti pentingnya kesiapan dalam menyampaikan materi bedah buku. “Seorang pemateri harus benar-benar menguasai seratus persen isi yang dijelaskan, karena bedah buku tidak bisa dilakukan dengan persiapan singkat,” ungkap Ghifari Firmansyah. Kendala-kendala tersebut menjadi bahan evaluasi bagi panitia untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang.

Sementara itu, anggota KASTRAT memberikan kesan positif terhadap kegiatan ini. “Acara bedah buku sebagai eksperimen yang menarik karena melatih kemampuan mendeskripsikan tema bacaan ilmiah kepada khalayak umum secara komunikatif” Ujar salah satu anggota KASTRAT yang tidak disebutkan namanya. Kegiatan ini juga dianggap mampu meningkatkan kepercayaan diri serta keterampilan berpikir kritis mahasiswa.